Senin, 31 Desember 2012

STW 03


STW 02


STW 01


EKSPRESIKAN NIKMATMU,,,


ISENG DI TERAS RUMAH


Tante kost-ku yang baik,,,


Kebiasaanku tidur ngelantur belum bisa dibuang. Sejak aku SMA aku sulit sekali dibangunkan pagi-pagi, apalagi sekolahku selama kelas 1 dan kelas 2 selalu siang hari. Ini pula yang menjadi kebiasaanku sewaktu mulai kuliah. Waktu aku menginjak kota Bandung pertama kali, udara dingin kota itu benar-benar membuatku masih terbuai mimpi meski sudah terang. Aku kuliah di salah satu PTS yang hampir semua kegiatannya di waktu sore hari, sehingga bagiku hidup dengan tertidur lelap di pagi hari cerah merupakan kebiasaan. Kawan-kawan satu kost-ku biasanya sudah sunyi waktu aku bangun untuk sarapan dan mandi, tapi kebiasaanku adalah sarapan sambil nonton TV, baru mandi.
Tante kost-ku termasuk yang baik, tak jarang untukku sengaja disiapkannya secangkir kopi atau kue untuk sarapan, atau semangkuk mie rebus hangat. Aku disayangnya, karena bila pagi hari rumah kost itu kosong dan akulah yang menemaninya mengurus segala sesuatu, menyapu, masak, atau apa saja. Walau aku suka tidur ngelantur, tapi aku termasuk anak yang rajin kerja di rumah. Tante ini masih muda, tetapi sudah janda. Ia hanya punya satu orang anak dan sudah bekerja di Sumatera. Praktis, ia hanya seorang diri di rumah. Namun kecantikannya tetap ia pelihara, sehingga di usianya yang mendekati kepala lima ia masih tetap cantik dan kencang.
Suatu hari aku nonton film biru pinjaman dari kawanku. Di rumah rupanya seperti biasa hanya aku saja lagi yang merupakan penghuninya. Aku ke kamar kecil sebentar, lalu memutar film itu di VCD komputerku. Karena asyiknya, melihat adegan yang panas aku tidak tahan, aku melucuti satu-satu pakaianku, tinggal CD-ku saja yang bertahan, itupun cuma sebentar, lalu kupelorotkan hingga ke paha. Aku merasa penisku menghentak-hentak minta dikeluarkan. Aku nonton dengan mata setengah membuka, sambil berbaring kuelus-elus penisku yang makin tegak. Gerakan tanganku sudah menjadi cepat, ah.. aku nggak tahan lagi, lalu aku kocok terus dan terus, kugigit selimut untuk menahan jeritan nikmat yang benar-benar menyelimuti pagi yang indah itu. Sesaat kemudian nafasku mendengus sambil menyemprotkan mani ke dadaku.
“Ah.. hmm.. ah..” aku merasa tubuhku ringan, lalu aku merasa ngantuk dan terlelap.
Tiba-tiba aku merasa pahaku dielus orang. Aku tersentak kaget. Ah, ternyata tante sudah ada di dalam kamarku. Ia menggunakan gaun putih yang tipis dan longgar. Kuhirup bau segar parfumnya yang menawan. Aku buru-buru bangkit menarik CD yang kupelorotkan, air maniku meleleh ke sprei, nggak kupedulikan. Tante kemudian menatap mataku, tampak bergelora api nafsu yang menggelegak di balik pandangannya itu.
Tangannya meraih tanganku, “Raf, Tante minta maaf masuk kamarmu tanpa mengetuk, abis tadi Tante lihat pintu kamarmu nggak dikunci. Tante bawa sarapan, tapi, Tante lihat kamu lelap kayak gitu,” katanya sambil mengelus pahaku kembali.
Aku salah tingkah. Matanya melirik VCD-ku yang ternyata masih memainkan film “laga” itu. Adegan demi adegan diawasinya, sambil tangannya meremas bahuku. Dielusnya tanganku sambil menarikku duduk di kasur. Kurasakan getaran halus lewat jari-jarinya, menahan gelora nafsunya yang membahana. Aku mulai aktif dan terbakar suasana. Kupeluk ia dari belakang, lalu kuhembuskan nafasku ke tengkuknya. Ia menggeliat dan menjadi lebih beringas.
Tubuhnya berbalik. Dibalasnya hembusan nafasku dengan ciuman lembut. Kedua tangannya dengan liar menelusuri pinggulku, perutku, lalu puting susu di dadaku.
“Raf, beri Tante.. Tante mau..” katanya penuh harap.
Ia kemudian menarik CD-ku sampai tuntas, lalu dengan lembut mengelus rambut kemaluanku, penisku yang masih terkulai lemas diremasnya dengan lembut pula. Aku menggelinjang kegelian, tapi tangan tante lebih dahulu menekan tanganku, seakan isyarat agar aku menurut.
Aku memejamkan mata. Nafasku bergemuruh, kemudian tubuh kami terhempas di kasur. Tante kemudian mengulum zakarku, sambil sesekali mencium penisku. Aku hanya dapat menahan nafas, sambil mengerang penuh nikmat. Kemudian lidahnya dengan liar menjilat penisku yang sudah tegak, sambil sesekali mengulum dan menyedotnya penuh gairah. Aku benar-benar sudah siap laga, ketika ia kemudian merebahkan tubuhnya di sampingku. Aku maklum.
Kubuka gaunnya yang longgar, kemudian BH dan CD-nya. Tante dan aku sudah sama-sama bugil. Aku mengambil posisi di atas, untuk memulainya. Pelan kupeluk badannya, lalu kubelai rambutnya yang mulai beruban itu. Kucium leher dan kupingnya, ia menggelinjang kegelian. Nampak, bulu lengannya merebak menahan rasa itu, tapi mulutnya hanya mengerang. Lalu, bagian leher bawahnya kujilat lembut, sambil sesekali jenggotku yang habis dicukur kemarin kugesekkan. Badan tante kemudian menggeliat lebih liar, sambil mendesahkan kata-kata yang tidak jelas.
Aksiku kulanjutkan dengan memainkan puting susunya yang menegang, sambil kujilat dan kuhisap perlahan.
“Ayo Raf, ayo!” katanya.
Aku tidak peduli. Aku telusuri terus semua titik nyerinya. Sampai kemudian wajahku berada di selangkangannya yang mulai berpeluh. Kubelai pubisnya dengan lidahku. Kubuka labia minora-nya dengan lembut, kemudian tanganku membelai perlahan labia minora-nya yang sudah mulai basah itu berkali-kali.
Kakinya kemudian menekuk dan mengangkat pinggulnya. Dimainkannya pinggulnya dengan goyangan yang berirama. Lidahku kemudian beraksi, menjilat bagian labia minora-nya, lalu naik hingga klitorisnya. Kulihat klitoris itu sudah menonjol kemerahan. Lalu, aku mengangkat pinggulnya, dan kumasukkan penisku perlahan, sambil kugoyang maju-mundur. Tante mengerang dengan tangan memegang erat pinggir kasur.
“Ayo, Raf, terus..!” katanya menyuruhku menggoyang badanku terus.
Aku menengkurapinya, lalu dengan sigap kusentakkan pinggulku sehingga penisku menghujam dalam ke vaginanya.
“Aduh, aduh.. Raf, nikmat sekali,” katanya sambil memelukku.
Leher dan puting susunya terus kucium dan kujilat.
“Teruskan Raf! ayo sayang, aku sudah hampir sampai nih,” katanya.
Aku makin menyentak. Keringatku mulai bercucuran, sementara tante pun demikian pula. Rupanya tante sudah sampai ketika tiba-tiba tante memelukku dengan tangan dan kakinya erat-erat sehingga aku tidak dapat bergerak sama sekali. Di mulutnya hanya suara desah puas selama beberapa saat. Kemudian pelukannya mengendur. Tante lemas.
Aku masih penasaran, karena aku belum sampai. Kutarik perlahan penisku yang masih menegang. Kulihat penisku berkilat-kilat karena lumasan vagina tante. Kubuka selangkangan tante, ia mengerang dan menggelinjangkan pantatnya ketika vaginanya kuraba lagi. Kurangsang tante agar aku dapat mencapai orgasme. Lidahku beraksi, kugapai labia minora-nya lalu kujilat habis bagian itu, bahkan maniku yang meleleh di situ kujilat sampai habis.
Lalu, klitorisnya yang memerah itu kusedot perlahan, “Ah, emm.. mm,” ia memekik lirih.
Badannya yang mulai menggelinjang itu kemudian kutelungkupkan. Kunaiki pantatnya, lalu kutekankan penisku ke vaginanya. Kemudian terasa suatu sensasi di penisku, karena tante menutup rapat kakinya. Tanganku kemudian memeluknya dari belakang, lalu aku menciumi tengkuknya yang wangi. Tanganku terus memainkan putingnya yang mengeras itu sambil kugoyang pinggulku, perlahan mula-mula, dan kemudian kemudian makin cepat.
“Rafael, terus Raf, Tante hampir dapat lagi nih,” katanya berbisik.
Aku tidak dapat menyahut. Nafasku memburu, karena nafsuku mulai memuncak. Kurasakan nikmat menyelimutiku sampai habis, lalu rasanya itu maniku sudah menghentak-hentak hendak keluar.
“Tante, Rafael mau keluar nih,” kataku berbisik.
Ia hanya mengangguk. Kemudian dengan sekali hentakan lagi, aku merasakan suatu sensasi baru, kenikmatan yang sangat panjang, “Crot.. croot.. croot..” terasa maniku menyemprot deras ke dalam vagina tante, sambil tanganku memeluknya dengan erat.
Aku hanya dapat mengerang penuh nikmat surgawi. Aku lemas di atas badan tante, lalu terlelap beberapa saat lagi.
Beberapa saat ia menggeliat. Ia bangkit dan mengenakan kembali pakaiannya. Kurasakan tante memeluk dan menciumku mesra sekali. Disekanya keringatku yang meleleh, lalu diselimutinya badanku yang masih telanjang. Pergulatan itu memporak-porandakan kasurku, tapi aku kini merasa tidak sendiri dalam menikmati dunia ini. Tante Win, di pagi hari siap selalu mengantarkan sarapanku, dan jika suatu saat ia memerlukan kehangatan diriku, aku Rafael, boy friend-nya, selalu ada di sampingnya.

NIKMATNYA TUBUH MAMA TEMANKU,,,


Perkenalkan namaku Jacky (teman-teman biasanya memanggilku Jack). Umurku 29 tahun. Postur tubuhku standar bule. Tinggi 185 cm, berat 82 kg. Wajahku biasa-biasa saja. Sekarang aku bekerja di salah satu perusahaan garmen di Medan, bagian marketing. Aku tinggal sendiri di sebuah tempat kost di Medan karena orangtuaku tinggal di Pematang Siantar.
Awal cerita, aku berkenalan dengan seorang cowok sebut saja Hendrik. Kebetulan Hendrik satu kantor denganku dan dia adalah manager saya. Sejak perkenalan itu, akhirnya kami semakin akrab dan akhirnya bersahabat. Itu karena kami mempunyai banyak persamaan pada diri masing-masing. Kami suka clubbing (dugem). Setiap malam minggu kami selalu menghabiskan waktu untuk dugem bersama cewek kami masing-masing. Yah, double date begitulah. Hendrik termasuk keluarga orang berada. Itu terlihat dari rumahnya yang megah dan beberapa mobil mewah yang nongkrong di garasinya. Maklumlah, orang tuanya pengusaha furniture antik untuk dikirim keluar negeri tapi dia lebih suka bekerja di luar daripada membantu orang tuanya.
Pertama kali aku main ke rumahnya, aku dikenalkan kepada Mamanya (kebetulan waktu itu Papanya nggak ada karena pergi ke Yogya untuk mencari barang-barang antik).
“Ma, kenalin ini teman kerja Hendrik, Namanya Jack”, kata Hendrik sambil memeluk pinggang Mamanya.
“Saya Jack, Tante”, ujarku.
Ibunya berkata, “Merry. Panggil saja Tante Merry. Silakan duduk”.
“Makasih Tante”. Wow, halus banget tangannya.. Rajin pedicure nih.
Setelah aku duduk, Hendrik berkata, “Jack, kamu ngobrol dulu sama mamaku. Aku mau mandi dulu. Gerah nih abis mancing. Kalo kamu pengen mandi juga, pake aja kamar mandi di kamarku. Aku mandi di atas. OK?”
“Gak deh, nanggung ntar juga pulang”, jawabku.
Posisi dudukku dengan Mamanya berseberangan di sofa antara meja kaca. Gila!, aku nggak nyangka Mamanya sexy banget.. Sebagai gambaran buat para pembaca, umurnya kira-kira 50 tahun, wajahnya cantik keibuan, kulitnya putih bersih dengan rambut ikal sebahu, postur tubuhnya ideal tidak terlalu gemuk. Ukuran payudaranya kira-kira 36B, bentuknya bulat pula. Enak banget nih kalo diisep, pikirku.
Memecah sepi, iseng-iseng aku bertanya, “Oom kemana Tante?”, padahal aku sudah tahu dari Hendrik kalau Papanya sedang ke Yogya.
“Kebetulan Oom pergi ke Yogya lagi cari barang-barang antik. Soalnya ada pesanan dari Malaysia. Mungkin sebulan lagi urusannya selesai. Sekarang cari barang-barang antik agak susah. Nggak kayak dulu”, jawabnya.
“Jack satu kantor sama Hendrik?”, tanyanya lagi.
“Iya Tante, tapi Hendrik manager saya sedangkan saya bagian marketing. Kebetulan saya sama Hendrik suka mancing. Jadi sering ngumpul”, jawabku.
“Oo.. Begitu”
“Tante mau nanya nih, teman Jack ada yang punya barang antik nggak?”
“Wah, kalo itu saya kurang tau Tante. Tapi mungkin nanti saya bisa tanya ke teman-teman”
“OK. Tante ngerti. Gini aja, seandainya ada teman kamu yang punya barang antik, telepon Tante ke nomor ini.. (sambil memberikan sebuah kartu nama lengkap dengan nomor HP) nanti kamu pasti dapat komisi dari Tante, gimana?”
“Siip deh Tante..”, wah, lumayan nih bisnis kecil-kecilan.
Setelah berbasa-basi, Hendrik datang sambil berkata..
“Keliatannya seru, lagi ngobrolin apaan nih?”
“Ini.. Mama lagi ngomongin bisnis sama Jack. Gimana? Udah segeran?”
“Udah dong Ma..”
“Ntar sore anterin Mama belanja ke Club Store ya.. Stok di kulkas sudah mulai habis tuh. Jack ikut?”
“Nggak deh Tante. Makasih. Soalnya banyak tugas yang belum selesai dikerjain. Lagian saya belum mandi”
“Ok, deh Drik, aku pulang dulu udah sore nih”, jam di tanganku menunjukan angka 6:10 menit.
“Ok hati-hati Jack.. Sampai ketemu besok di kantor”
“Permisi Tante”
“Iya.. hati-hati ya Jack.. Inget telepon Tante kalo ada barang antik OK?”
Setelah aku start motorku, aku langsung pulang. Sesampainya di rumah aku langsung mandi karena badan rasanya lengket semua.
Sejak saat itu aku sering membayangkan Tante Merry, walaupun aku sudah punya cewek yang sering kuentot. Terkadang aku ngentot cewekku tapi aku membayangkan sedang ngentot Tante Merry. Sampai colipun aku tetap membayangkan dia. Puas rasanya. Walaupun aku merasa sedikit berdosa sama Hendrik. Ternyata nafsu mengalahkan segalanya. Aku juga termasuk orang yang pandai menyembunyikan sesuatu.
Selang empat hari dari perkenalan itu, aku tidak melihat Hendrik di kantor. Untuk mencari tahu, aku telepon Hendrik ke HP-nya.
“Drik, kamu hari ini nggak masuk kenapa? Sakit atau ngentot?”, candaku.
“Gila kamu ngatain aku ngentot.. Aku lagi dalam perjalanan ke Yogya nih. Sorry aku nggak sempat ngasih tau kamu. Buru-buru sih”, jawabnya dari seberang telepon.
“Ngapain kamu ke Yogya?”, tanyaku lagi.
“Kemarin malam Papaku nelpon, aku disuruh bawain laptop yang isinya katalog. Buku katalog yang dia bawa kurang lengkap”
“Ngapain susah-susah. Paketin aja kan beres?”
“Wah, resiko Jack. Lagian sekalian aku liburan di sini. Yah, sambil cari memek barulah.. Rugi dong aku udah minta cuti 2 minggu cuma buat jalan-jalan”
“Nggak ngajak-ngajak malah bikin ngiler aja”
“Sorry banget Jack.. Hahahaha..” setelah itu telepon ditutup. Sialan, pikirku.
Bengong di kantor.. Tiba-tiba terbayang lagi Tante Merry. Aku ada akal nih.. Semoga berhasil. Iseng-iseng aku SMS ke nomor HP Tante Merry, pura-pura menanyakan Hendrik. Isi SMS nya begini, “Tante, ini Jack. Hendrik kok ga msk kantor? Sakit ya? Tadi saya tlp ke hpnya tp ga nyambung2?
Setelah beberapa detik SMS terkirim, HP-ku berdering.. Kulihat nomornya, ternyata dari no telepon rumah Hendrik. Yes! Teriakku dalam hati. Tanpa basa-basi, langsung aku angkat.
“Hallo..” ucapku.
“Hallo, ini Jack?”
“Iya.. Ini Tante Merry ya?”
“Lho kok tau?”
“Nomor telepon rumah Tante tercatat di sini. Hendrik sakit ya Tante?”
“Lho, kamu nggak dikasih tau sama Hendrik kalo dia ke Yogya?”
“Hah, ke Yogya? (aku pura-pura kaget) Yang bener Tante. Kapan berangkatnya?”
“Kamu kok kaget banget sih. Berangkatnya tadi pagi banget sama Rudy. (Rudy bekerja sebagai asisten Papanya) Mungkin karena buru-buru jadi nggak sempat ngasih tau Jack”.
“Kira-kira kapan pulangnya Tante?”
“Yah, mungkin 2 minggu lagi. Sekalian refreshing katanya”.
“Wah, kasihan yah Tante jadi kesepian..”
“Iya nih.. Jack ke sini dong. Temenin Tante ngobrol. Itu juga kalo Jack nggak sibuk.”
Horee!! Sorakku dalam hati. Kesempatan emas nih.. Gak boleh disia-siakan.
“Hmm, gimana ya..(pura-pura berpikir) OK deh Tante. Lagian saya nggak sibuk ini. Jam berapa Tante? Sekalian saya mau belajar bisnis sama Tante”.
“Bener nih Jack nggak sibuk? Kalo Jack mau, dateng aja jam 6 sore. Gimana?”
“OK Sampai ketemu nanti. Saya urus kerjaan dulu”.
“OK Tante tunggu ya.. Bye..”
Setelah menutup telepon aku bergegas pulang dan mandi. Karena waktu sudah menunjukkan angka 4:55 menit. Jam 5:50 menit aku sudah sampai di rumahnya. Di pintu gerbang, ternyata aku sudah disambut oleh seorang pembantu. Pembantu itu bertanya..
“Mas Jacky, ya?”
“Iya. Kok Mbak tau?”
“Tadi Ibu bilang kalo ada tamu yang namanya Jack suruh masuk aja. Gitu. Ayo silakan masuk Mas”.
“Terima kasih Mbak”.
“Sama-sama”
Begitu masuk, langsung kuparkirkan motorku di garasi berjejer dengan mobilnya. Lalu aku melangkah menuju ruang tamu. Tante Merry sudah duduk di sofa.
“Sore, Tante.. (aku sempat kaget begitu lihat Tante Merry yang sedang mengenakan pakaian senam dan keringat membercak di antara belahan payudaranya. Apalagi putingnya terlihat menonjol karena tidak pakai BH. Bentuknya masih mengkal, jadi gemas liatnya. Sesekali aku menelan ludah karenanya).
“Ayo, masuk aja Jack. Silakan duduk. Sorry Tante masih keringatan. Jangan malu-malu. Anggap aja rumah sendiri. Ternyata kamu tepat waktu. Tante suka orang yang selalu tepat waktu”.
“Kebetulan aja Tante..”
“Jack, Tante bisa minta tolong nggak?”
“Tolongin apa Tante?”
“Tolong pijatin kaki Tante ya.. Sebentar aja. Tadi Tante aerobik nggak pemanasan dulu jadinya kaki Tante kram”.
“Boleh deh. Tapi saya nggak jago pijat lho Tan”.
Tanpa berkata apa-apa, Tante Merry merebahkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya kemudian kakinya diletakkan di atas pahaku. Dia sengaja melebarkan sedikit kakinya sehingga aku dapat melihat bulu-bulu memeknya yang terjepit di antara selangkangannya. Kontolku sedikit mengeras dibuatnya, ditambah bau keringat bercampur bau memek yang khas. Oh.. Aromanya semakin terasa..
Aku mulai memijat betisnya. Oh mulus sekali kulitnya. Sekitar 5 menit memijat betisnya, tanganku naik ke pahanya. Mulanya dia diam saja. Lalu aku beranikan diri menaikkan pijatanku ke pangkal pahanya.
“Hmm.. Enak Jack. Kamu pinter.. Ya.. Di situ Jack..”
Aku sengaja meremas-remas pahanya semakin naik hingga jari kelingkingku menggesek-gesek memeknya yang masih dibalut baju senam itu. Aku pura-pura tak merasakannya. Mendapat pelakuan seperti itu, dia malah melebarkan pahanya namun matanya masih terpejam. Nafasnya pun sudah tidak beraturan. Melihat dia sudah bernafsu aku menghentikan pijatanku. Lalu dia membuka matanya..
“Kok berhenti Jack? Jack capek ya?”. Dari tatapan matanya seolah dia ingin aku agar tidak berhenti menggesek-gesekkan jariku di memeknya.
“Nggak Tan. Cuma kalo posisinya gini kurang nyaman aja. Lagian nggak ada yang ditonton. Kan nggak semangat”
“Ya udah, kita pindah aja ke kamar Tante. Disana ada TV-nya. VCD juga ada, jadi kamu mijatnya kan bisa sambil nonton”, lalu Tante menarik tanganku menuju lantai atas ke kamarnya.
“Nah, ini kamar Tante. Tante rebahan dulu, kamu pasang VCD-nya”, wow, kamarnya luas. Mungkin 3 kali luas kamar kostku. Lengkap dengan home theaternya.
“Pilih aja film yang kamu suka”, Tante menyuruhku sambil rebahan di springbednya.

Sedang asyik-asyiknya memilih-milih, tanpa sengaja kulihat sebuah CD yang diletakkan di bawah VCD player. Setelah kulihat ternyata CD BF bertuliskan Vivid.
“Kalo nonton yang ini boleh nggak?” tanyaku sambil menunjukkan CD-nya ke Tante Merry.
“Oh itu. Boleh aja. Tapi pijatnya tetap konsentrasi ya..?”
“Beres..”, jawabku sambil memasukkan CD ke playernya.

Dengan posisi tubuhnya tengkurap menghadap TV, dan aku duduk di sebelahnya.
“Tadi kan udah paha, sekarang tolong pijatin punggung Tante yah. Pijatan kamu enak Jack”
Aku mulai meletakkan jari-jariku di punggungnya dan meremas-remas, sedang dia asyik menonton VCD yang aku putar. Pas adegan cewek bule yang memeknya dihisap dan dijilati oleh cowok negro, aku pura-pura bertanya..
“Tan, kalo cewek dijilatin gitunya enak ngga sih?”
“Tante sendiri nggak tau rasanya. Soalnya sama Oom nggak pernah digituin. Lagian jijik ah..”
“Ah, masa sih Tan? Kata teman saya rasanya jilatin memek itu enak-enak asin. Banyak cewek yang suka kalo memeknya dijilatin”, ujarku sambil tanganku meremas-remas pantatnya.
“Emangnya kamu nggak pernah? Kenapa nggak cobain punya pacarmu?”
“Coba kalo saya punya pacar, mungkin saya nggak penasaran kaya gini” (Aku berpura-pura tidak pernah mencobanya, padahal sudah sering).
“Tante juga penasaran sih pengen dijilatin. Tapi Oom nggak bakal mau deh”, mendengar kata-katanya aku langsung nekat meremas payudaranya dari belakang dan kudekatkan bibirku di telinganya..
“Jack mau jilatin memek Tante sekarang”, ujarku sambil memasukkan lidahku di telinganya, kujilat cupingnya.. Dia hanya mendesah..
“Ohh.. Jack.. Hmmpp..”

Sebelum dia berkata apa-apa, kusumbat bibirnya dengan bibirku. Sekejap kemudian dia lalu dia membalikkan badannya. Kami berciuman dengan ganasnya. Lidahnya menyapu setiap dinding-dinding mulutku.
“Sejak pertama saya melihat Tante, saya sering membayangkan bersetubuh dengan Tante, abis Tante sexy banget sih”, sambungku.
“Ah masa sih Tante sesexy itu?”
“Serius Tan”

Sambil terus berciuman, tangan kananku menjelajah ke selangkangannya. Dia semakin agresif menyedot bibirku. Ciumanku turun ke lehernya, kujilat lehernya..
“Sshh.. Jack.. Ahh.. Shh..” tangan kanannya mulai meraih batangku yang sedari tadi sudah mengeras.. Kurasakan nafasnya sudah mulai tak teratur.
“Keluarin kontollmuu Jack.. Ahh..” dia berhasil mengeluarkan kontolku dan mengocoknya.. Aku hanya bisa menikmatinya.
“Taantee.. Eenaak baangeett.. Ahh.. Shh..”

Kubuka bajunya hingga tersingkaplah dua bukit kembar dengan puting berwarna coklat. Kuhisap puting payudaranya yang kiri. Dia semakin keras mengocok kontolku.
“Sabar yah Tante, saya bukain dulu baju Tante..”
“Iya.. Ahh.. Stt..”

Setelah membuka bajunya, kini yang terlihat hanya tubuh sexy Tante Merry dengan gundukan bukit berbulu yang terlihat sedikit mengeluarkan cairan. Tanpa menunggu lagi, aku membuka semua pakaianku sehingga aku telanjang bulat.
“Wow.. Lumayan juga kontol kamu Jack”, ujarnya sambil memegang kontolku.
“Punya Oom nggak segini besar..”, dipandanginya kontolku dengan tatapan heran.
“Ini juga belum maksimal Tante.. Daripada cuma diliatin, isep dong Tan. Ntar tambah panjang”

Dengan posisi aku berdiri menghadap ranjang dan Tante Merry menungging di atas kasur, dia dengan lahap menghisap kontolku. Dijilatinnya lubang kencingku, sedang tangan kirinya memijat-mijat buah pelirku.
“Hmm.. Terus Tan. Enak.. Ohh.. Aagak keraas Taan..”
Setelah 5 menit menjilati kontolku, aku menyuruhnya rebahan. Kubuka kakinya lebar-lebar hingga tercium aroma yang lezat sekali.
“Mau diapain Jack?”
“Tante tenang aja. Yang penting Tante puas.. Jack udah nggak sabar pengen jilatin memek Tante”
“Emang kamu nggak jijik?”
“Justru saya suka banget. Abis memek Tante bersih. Merah lagi”

Tanpa menunggu pertanyaan yang akan dilontarkannya lagi, aku langsung menjulurkan lidahku menuju lubang memeknya. Dia hanya bisa melenguh..
“Ooh.. Sshhtt.. Jack..”, desahnya sambil tangannya menjambak rambutku. Mungkin karena baru pertama kalinya dia merasakan sensasi seperti itu.
Memeknya terasa asin di lidahku dan cairan yang keluar lumayan banyak. Tak kusia-siakan cairan itu mengalir begitu saja. Aku menyedotnya hingga terasa cairan kental asin melewati lidah hingga tenggorokanku. Setelah puas membersihkan cairannya, lalu lidahku menuju klitorisnya. Jambakan di rambutku bertambah keras dan desahannya semakin menjadi..
“Teeruus.. Di siituu.. Saayaanghh.. Oohh good.. Saayaanghh.. Saayyaanghh.. Ohh.. Enaak.. Sthhsstthh..”
Sekarang dia tidak lagi memanggilku Jack, tapi sayang. Aku semakin cepat menggerakkan lidahku berputar-putar di klitorisnya dan sesekali aku menyedotnya dengan keras. Beberapa detik kemudian kurasakan badannya bergetar dan kedua tangannya menekan kepalaku ke memeknya sehingga aku sedikit susah bernafas. Mungkin dia sudah mau keluar, pikirku. Aku semakin kuat menjilatinya hingga tanpa sadar dia berteriak..
“Ahh.. Saayaanghh.. Taanntee.. Mauu keelluuaarr.. Ahh..”
Ada cairan yang keluar dari memeknya. Kujilat dan kutelan lagi karena rasanya enak dan aku menyukainya. Lalu aku bangun. Kulihat wajahnya tersenyum puas.
“Makasih Sayang, sekarang masukin kontolmu, Sayang. Tante sudah nggak tahan”
“OK Tante”, jawabku.

Lalu dibimbingnya kontolku menuju lubang tempat lahirnya sahabatku itu. Begitu masuk rasanya hangat sekali. Dan tidak lebar seperti yang pernah kubayangkan.
“Ohh.. Memek Tante enak banget.. Masih keset. Kaya perawan..”, mendengar ucapanku dia tersenyum.
“Sekarang puas-puasin ngentot Tante yah!”

Aku mulai memaju mundurkan pantatku. Sleep.. Slepph.. Sleepph, bunyi di antara selangkangan kami. Tante Merry semakin meracau..
“Kkoonntooll.. Enaakk.. Sodok yang keraas saayaang.. Tante mau keluar lagii.. Ahh”
Kuturuti permintaannya hingga kontolku terasa mentok di perutnya. Lalu tubuh Tante Merry mengejang untuk yang kedua kalinya. Setelah 30 menit mengocok kontolku di dalam memeknya, kontolku terasa geli-geli nikmat. Sedetik kemudian tanpa sadar gerakan badanku semakin cepat.
“Taanntee.. Saayyaa.. Mauu.. Keelluuaarr.. Ahh..”
“Keeluuariin di daalaam saayaangh..”

Tangannya menahan gerakan pantaku. Akhirnya.. crroot.. crroott.. croott.. Kontolku terasa meledak. Lalu kutindih tubuhnya. Kami berpelukan selama beberapa menit.
“Makasih ya sayang, udah puasin Tante. Ini rahasia kita berdua OK?”
“Saya juga senang bisa puasin Tante. Kapan saja Tante mau, saya siap”

Setelah itu aku mandi karena jam sudah menunjukkan pukul 9:30. Selesai mandi aku langsung pulang.
Sejak saat itu aku sering making love dengan Tante Merry. Kalau dia sedang horny, dia jemput aku dengan menelepon terlebih dahulu untuk check-in di hotel atau bungalow. Sampai dengan saat ini (2 bulan sejak pertama mengentot Mamanya) Hendrik masih belum mengetahui apa yang terjadi antara aku dengan Mamanya.

RITUAL SEKS DENGAN MBAK SURTI


Cerita temenku bikin penasaran. Dia bercerita bahwa di Jateng nggak jauh dari Solo ada tempat ziarah yang bisa bebas melakukan hubungan sex dengan orang lain. Yang lebih bikin penasaran, banyak cewek, maksudnya ibu-ibu yang datang berziarah kesana mencari pasangan laki-laki untuk melengkapkan niat ziarah mereka. Temenku ini sudah beberapa kali kesana. Katanya dia tidak mementingkan ziarahnya, tetapi lebih ke berburu ibu-ibu yang mencari pasangan.
Informasi dari temanku ini kucermati secara lebih rinci, rasanya penasaran juga ingin mencoba. Berbekal info yang kurasa cukup lengkap berangkat lah ke Solo dengan penerbangan murah dari Jakarta. Tarif murah biasanya hari Rabu, tapi kalau hari Sabtu Minggu, selalu lebih mahal.

Sesampai di Solo, Rabu sore aku orientasi dulu . Cari penginapan yang murah di sekitar stasiun Solo, lumayan banyak hotel yang harganya miring dan cukup bersih dan bagus. Sesampai di hotel aku langsung ditawari temen bobo, dengan bingkai promosi yang kadang-kadang berlebihan.

Karena tujuanku ke Gunung Kemukus, maka berbagai tawaran itu aku tolak halus.
Kamis menjelang Jumat Pon, perburuan dimulai. Berbekal tip dan trik dari temanku, aku berusaha mencari dan memilih pasangan dari terminal Tirtonadi di Solo. Kendaraan umum jurusan Purwodadi menjadi amatanku, untuk mencari penumpang yang kemungkinan akan ziarah ke Gunung Kemukus.
Tidak mudah memang, karena sudah 2 jam aku belum menemukan perempuan yang layak. Ya paling tidak kan cakep dan bodynya bagus, meski mereka umumnya STW.

Selagi aku melamun sambil mereokok, ada seorang ibu-ibu menegorku. “Mas bus jurusan Purwodadi yang mana ya ,” tanyanya.
Aku terkejut, karena yang menegor itu adalah ibu-ibu dengan kisaran umur 40 tahun, berwajah khas Jawa, tidak terlelu gendut, tapi semok juga.

“ Oh di sini bu, ibu mau ziarah ??” tanyaku langsung ke sasaran.
“Iya,” katanya.
Ibu itu ternyata baru pertama kali mau ziarah ke Gunung Kemukus. Aku sempat heran juga, kenapa dia berani jalan sendiri tanpa pendamping.
“Mbak sudah tahu syaratnya untuk ziara ke Gunung Kemukus,” tanyaku.
“Ya tahu dikit, mas nya mau kemana,? Tanyanya.
“Saya juga mau kesana,” kataku.
“Mbak sudah punya pasangan untuk ziarah ke sana,” tanyaku lagi.
“Belum sih, apa mas ee mau nemenin saya,” tanyanya.

Melihat penampilan perempuan ini yang lumayan ok, aku langsung setuju menemani dia. Dia memperkenalkan diri, namanya Surtiyah berasal dari Purworejo.

Dia mendapat cerita dari temannya yang juga berdagang bahwa sejak ziarah dan minta dagangannya laris ke Gunung Kemukus, dagangannya bisa maju.
Mbak Surti, juga berdagang. Dia jualan makanan seperti nasi goreng, mi goreng, mi rebus dengan warung tenda.. Ketika kami ngobrol di perjalanan dia bercerita bahwa dirinya janda beranak tiga, ditinggal cerai sama suaminya. Untuk menghidupi ke 3 anaknya dia berusaha jualan nasi goreng dengan kemampuan seadanya. Dia dagang baru setahun, tetapi rasanya dagangannya gak maju-maju. Setelah dapat informasi dari temennya yang dagangannya maju, dia jadi penasaran ingin mengikuti jejak temannya, ziarah ke makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus, pada malam Jumat Pon.

Tadinya dia agak berat juga mengetahui syarat untuk menyempurnakan ziarah itu harus berhubungan badan dengan laki-laki yang bukan suaminya. Tapi katanya lama-lama dia makin penasaran dan pasrah, demi melariskan dagangannya dan membiayai anak-anaknya yang sudah makin besar-besar.

“Untung saya ketemu mas e di Solo, jadi rasanya gak malu banget. Kalau sampai di Kemukus belum dapat pasangan kan rasane piye yo,” katanya dalam bahasa yang dicampur-campur Indonesia dan Jawa.

Saya pun berterus terang bahwa baru kali ini ke Gunung Kemukus, karena diberi tahu teman. Tapi saya ngarang aja bahwa saya dagang beras. Untung dia nggak tanya macem-macem soal dagang beras. Kalau dia sempat tanya itu, wah aku bisa gelagepan juga.

Di mobil angkutan aku berkali-kali melirik Mbak Surti. Umurnya kira-kira 5 tahun diatas aku, tapi badannya semok benget. Susunya gede dan pantatnya bahenol. Yang terlihat istimewa dari bodynya adalah pinggangnya ramping. Model yang begini ini amat jarang saya temukan. Umumnya kalau susu gede, dan pantat semok, perutnya juga besar.

Kami sampai di pemberhentian Barong. Sang supir meneriakkan kemukus-kemukus. Ternyata banyak juga penumpang yang turun di situ. Di tempat pemberhentian angkutan itu sudah banyak laki-laki, yang kelihatannya menunggu pasangan, menawarkan diri menemani para peziarah perempuan. Si Mbak Surti menggandeng tanganku, untuk menegaskan kepada orang-orang di sekitar situ bahwa dia sudah punya pasangan. Dengan begitu memang tidak ada laki-laki yang menawari untuk menemani dia berziarah. Tukang Ojek sudah menunggu dan terkesan berebut menawarkan jasa ojek. Karena aku tidak tahu sejauh apa tempatnya, kami berdua setuju menyewa ojek sampai ke pinggir dermaga penyeberangan. Kebetulan waktu kami kesana, air waduk Kedung Ombo sedang naik, jadi untuk mencapai gunung Kemukus kami harus menyewa perahu penyeberangan.

Gila juga, mereka menawari ongkos semaunya. Aku langsung patahkan dengan menawar biaya sepantasnya. Berbekal kembang dan pernak-pernik untuk ziarah kami menaiki tangga yang lumayan tinggi dan banyak. Katanya jumlah anak tangga itu ada 157. Diatas disambut oleh juru kunci dan Si mbak langsung menjelaskan maksudnya berziarah ke sana. Aku diam saja sambil mengamati, betapa ramainya orang berziarah ke sini. Makam Pangeran Samudro berada dibawah semacam bangunan Joglo yang cukup luas. Makamnya dikerudungi kelambu. Terasa suasana sakral di sekitar makam itu. Aku ikut-ikutan saja menabur kembang dan duduk seperti peziarah lainnya. Mbak Surti kelihatan khusuk benar dia berdoa. Aku tidak tahu dia berdoa minta kepada siapa, apa ke rohnya Pangeran Samudro apa ke Tuhan YME.

Aku ke sini kan tidak berniat ziarah sungguh-sungguh, tetapi ingin merasakan petualangan ritual sex yang melegenda.

Selesai menuntaskan ritual berdoa, kami lalu mundur dari bangunan makam Pangeran Samudro. Waktu itu sudah sekitar jam 10 malam. Di sekitar makam itu di bagian agak ke bawah terdapat tempat-tempat penginapan . Tapi menurut temanku, lebih asyik kalau melampiaskan hasrat berhubungan badan di semak-semak di dekat pohon besar. Aku menyarankan kepada Mbak Surti untuk kami beristirahat sambil menyewa tikar di bawah pohon besar di semak-semak itu. Suasananya agak remang-remang karena hanya mengandalkan sinar bulan purnama. Kami mencari tempat yang agak lega.

Dalam pencarian itu kami melewati pasangan yang lagi asyik berhubungan badan dan mereka tampaknya tidak perduli ada orang yang melintas dekat mereka. Banyak sekali pasangan yang sedang tumpuk-tumpukan. Mereka melakukannya tanpa melepas seluruh pakaiannya. Oleh karena itu meski pada posisi orang berhubungan badan, tetapi tidak bisa terlihat payudara pasangan perempuannya. Namun yang bikin lebih seru ada pasangan yang perempuannya mengerang-ngerang nikmat. Kami mendapat tempat yang agak lega. Meskipun lega tetapi tidak sampai 3 m ada pasangan lain yang sedang bergelut. Karena suasananya cuek, kami pun berlaku begitu.

Kami mulanya tidur berdampingan. Aku rikuh juga mau mulainya gimana ya, masak langsung meluk dan mencium lalu pegang tetek. Belum juga aku menemukan jalan , aku terus ngobrol sambil berbisik, jam sudah menunjukkan hampir 12 malam. Tiba-tiba tangan Mbak Surti meremas selangkanganku. “Lho udah bangun toh,” katanya.

“Udah mbak dari tadi sih, tapi masih sungkan, karena kita baru kenal kali ya, “ kataku.
“Udah nggak usah sungkan, emang kemari kan tujuannya mau gituan,” katanya sambil dengan pedenya dia membuka sabuk dan resletingku. Penisku langsung digenggamnya. “Wah keras benget,” katanya.

Birahiku mulai naik, aku pun mulai memberanikan diri langsung memegang bagian selangkangannya. Dia mengenakan celana panjang, sehingga kontur kemaluannya kurang terasa ketika diremas dari luar.

Aku berusaha membuka celana panjangnya sekaligus celana dalamnya. Kuturunkan sampai ke mata kaki. Lalu tanpa foreplay macam-macam aku langsung menungganginya.

Mbak Surti kelihatannya sudah siap akan ditunggangi, kakinya dilebarkan. Penis kutempelkan ke gerbang vaginanya. Pelan-pelan aku tekan. Agak seret juga, mungkin pelumasannya belum sempurna. Kutarik sedikit, lalu kudorong lagi. Begitu berkali-kali sampai akhirnya bisa kejeblos seluruhnya ke dalam memek Mbak Surti.

Rasa memeknya legit banget dan masih cukup menjepit, meskipun dia sudah beranak 3. Kelihatannya dia pandai merawat kewanitaannya. Penisku terasa sangat digenggam oleh liang vaginanya. Aku terus menggenjot. Mbak Surti ternyata berpembawaan rame. Artinya dia mengerang-ngerang ketika merasakan kenikmatan disetubuhi. Tetangga kiri –kananku sampai-sampai menoleh ke arah kami. Aku cuek aja. Itung-itung ini adalah sex party dengan pasangan tetap. Boleh jadi kalau tempatnya terang mungkin ada ratusan pasang yang lagi bersetubuh disitu. Kayak film orang jepang yang ngesex rame-rame.

Aku terus menggenjot sambil menahan agar orgasmeku tidak segera datang. Mbak Surti makin ribut, apalagi ketika orgasmenya nyampe, dia melenguh panjang tersedat-sedat mengikuti ritme orgasmenya. Melihat dia mencapai orgasme birahiku makin tinggi sehingga aku pun tidak kuasa lagi menahan ejakulasiku. Kubenamkan dalam-dalam penisku ke dalam memek Mbak Surti sambil merasakan hangatnya vagina Mbak Surti.

Kami berdua mencapai kepuasan. Aku tetap menindih Mbak Surti sampai penisku mengecil dan akhirnya keluar sendiri dari sarangnya. Dengan tissu yang sengaja kami siapkan kami membersihkan diri seadanya lalu merapikan kembali pakaian kami.

“Ini afdol banget ya mas, kita main di bawah pohon di semak-semak sini, teman saya juga nyarani agar kalau main jangan dipenginapan, tetapi disemak-semak, biar niatnya cepat terkabul.,” kata Mbak Surti.

Setelah selesai melakukan ritual yang aneh itu, kami beranjak menuju Sendang Ontrowulan. Disana sekedar berbasuh muka dan kaki. Ada kepercayaan air sendang itu membuat orang awet muda dan cantik.
Jam sudah menunjukkan 2 dini hari. Kami memutuskan untuk kembali ke Solo ke penginapanku. Angkutan masih ramai. Eh lupa, sebelum kami kembali, kami sempat membersihkan diri di wc umum. Risih juga rasanya, apalagi rada-rada kebelet pipis .

Sesampainya di Solo, kami tidak langsung ke penginapan, tetapi mengisi perut yang lagi keroncongan. Hidangan dini hari di Solo yang populer adalah nasi liwet. Nikmat sekali rasanya menyantap nasi liwet sambil duduk lesehan, malam-malam begini. Padahal selama ini aku kurang suka nasi liwet, karena menurutku rasanya rada hambar dan jemek. Tapi kalau waktunya tepat di tengah malam gini terasa enaknya.

Setelah perut terisi, dengan becak kami menuju penginapan. “Enak juga mas kamarnya, bersih lagi,” katanya. Aku menawarkan mandi sebelum kami bobo.

“Dingin ah mas” katanya.

Kamar mandi di kamarku dilengkapi dengan shower air panas. Akhirnya dia mau juga mandi air panas. Alasanku biar badannya nggak lengket dan segar. Aku langsung saja mebuka semua bajuku. Mbak Surti bingung melihat kenekatanku, langsung telanjang di depannya.

“ Ih masnya kok nggak malu sih,” katanya.
“Lha buat apa malu kita kan udah lebih dari telanjang tadi,” kataku

Aku membantu Mbak Surti yang masih rada malu bertelanjang di depanku. Perempuan kadang-kadang aneh juga. Dia udah kita setubuhi, tapi masih merasa malu. Setelah telanjang bulat di kamar yang sengaja lampunya aku terangi, Mbak Surti berusaha menutupi payudaranya dan kemaluannya dengan kedua tangan nya. Aku biarkan saja dia begitu, mungkin dia masih dalam proses transisi untuk berani telanjang sesungguhnya di depanku. Kurangkul dan kubimbing ke kamar mandi. Shower aku atur agar tidak terlalu panas, tetapi juga tidak dingin. Pertama aku guyur seluruh tubuh Mbak Surti termasuk rambutnya.

Body Mbak Surti ini memang benar-benar aduhai. Rugi amat suaminya meninggalkan istri sebagus ini. Mukanya juga gak terlalu jelek, malah menurutku untuk ukuran di sini sudah bisa mencapai skor 7 lah. Aku menyabuni seluruh tubuhnya. Bagian payudaranya agak lama aku remas-semas dengan sabun yang licin. “ Ah mas e nakal, main disitu terus,” katanya. Selanjutnya adalah selangkangan. Baru aku sadar bahwa Mbak Surti tidak banyak memiliki jembut, sehingga memeknya yang mentul terlihat jelas. Aku memasukkan jari tengahku dan membersihkan belahan memeknya dengan sabun. “Aduh mas geli ah, “ katanya manja. Aku gantian minta disabuni. Dia memperlakukan aku seperti sedang memandikan anaknya, Bedanya dibagian penisku dia melakukan kocokan, sehingga penisku pelan-pelan mulai bangun lagi.

Nikmat sekali dan segar rasanya membersihkan diri, meskipun waktunya sudah dinihari. Dengan berbalut handuk kami kembali kekamar tidur. Aku menyarankan Mbak Surti untuk langsung masuk ke bawah selimut dengan melepas handuknya. AC kamarku terasa sangat dingin, apalagi sehabis mandi begini rasanya tidak tahan berlama-lama telanjang. Setelah badanku kering aku juga langsung masuk ke dalam selimut yang sama dengan Mbak Surti.

Tempat tidur di kamarku cukup leluasa untuk ditempati berdua. Aku langsung memeluk tubuh mbak Surti yang kedinginan . Tanganku mulai bergerilya meremas susunya yang masih padat dan menantang. Dia mulai bangkit birahinya, ditandai nafasnya yang makin cepat. Pentilnya kupilin-pilin dan akhirnya aku hisap dan gigit dengan kedua bibirku. Nafsu Mbak Surti makin tinggi dengan sekali-kali melenguh. Giliran berikutnya tanganku menggapai belahan memeknya yang berbulu jarang. Terasa sudah mulai berlendir di bawah sana. Aku turun menciumi perutnya yang masih kencang sambil jariku terus memainkan clitorisnya. Dia mengejang-ngejang setiap kelentitnya diusap.

Selimut sudah terbuka dan badan Mbak Surti terekspos bugil. Aku terus ke bawah dan menciumi gundukan memeknya. “Mas jangan ah jijik, “katanya.
Rupanya dia belum pernah dioral. Aku tidak perduli malah terus menelusuri kebawah dan lidahku sudah menemukan titik sasaran, yaitu clitorisnya. Memek Mbak Surti sama sekali tidak berbau. Mungkin juga karena habis mandi tadi dibersihkan dengan sabun, atau karena dia memang pandai merawat kewanitaannya. Aku mulai melakukan operasi ke seputar memeknya. Mbak Surti sudah lupa soal jijik tadi. Dia malah menggelinjang-gelinjang menikmati rangsangan lidahku di kelentitnya. “ Aduh mas enak e masssss,” erangnya berkali-kali.

Tiba-tiba dia terdiam dan tidak berapa lama kemudian menjerit keras dan bersamaan dengan itu seluruh permukaan kemaluannya berkedut-kedut. Dia mencapai orgasmenya melalui oralku. Aku bekap terus mulutku ke memeknya dan menghentikan gerakan lidah. Tangan Mbak Surti menekan kepalaku agar lebih ketat menekan memeknya. Aku memang agak kesulitan bernafas jadinya, tetapi masih ada celah sedikit.

Selesai dia menuntaskan orgasmenya dia tergolek lemas. Aku meneruskan mencolok jari tengah dan jari manis perlahan-lahan memasuki memeknya yang sudah makin basah. Titik G pot yang dicari terasa menonjol di bagian langit-langit vaginanya. Pelan-pelan aku raba halus. Awalnya Mbak Surti diam saja. Namun lama-kelaman dia mulai lagi merintih-rintih. Aku menggerakkan kedua jariku di dalam memeknya dengan gerakan yang makin keras. Mbak Surti pun makin mengerang. Aku buka kedua kakinya sehingga belahan memeknya juga terbuka. Memeknya cukup bagus, tidak ada gelambir berlebihan, dan warnanya juga tidak terlalu pekat. “ Mas-mas stop dulu mas aku rasanya kebelet pipis, aduh mas,” erangnya. Aku tidak menuruti kemauannya tetapi terus mekin keras mengangkat kedua jariku di dalam liang vaginanya. Aku sengaja membuka lebar celah vaginanya. Seperti yang kuharapkan, dari celah vaginanya menyemprot cairan agak kental mengenai mukaku. Sekitar 4 kali semprotan itu terjadi dan makin melemah sampai akhirnya hanya meleleh.

“Aduh mas aku pipis tadi ya, tapi rasane koq uenak banget yoo, aku lemes banget mas,” katanya.

Tidak menghiraukan keluhannya aku langsung menindihnya dan memasukkan penisku yang sudah mengeras sejak tadi. Meski memeknya basah, tetapi jepitannya masih terasa mencengkeram. Aku menandai, jika cewek baru orgasme, otot-otot vaginanya demikian mengembang sehingga memberi efek lebih menjepit. Aku memompa dengan gerakan kasar. Mbak Surti mencapai orgasme lagi, dia sampai minta-minta ampun karena katanya badannya lemas banget. “ Aduh mas wis mas aku ampun mas lemes banget massss,” tapi terus aku genjot. Mbak Surti mesti mengiba-iba minta kuhentikan, tetapi dia merintih=rintih keenakan juga. Aku memainkan penisku di dalam vaginanya pada posisi konstan tepat dimana bagian-bagian sensitifnya tergerus. Rasa nikmat mulai menjalari seluruh tubuhku dan orgasmeku sudah makin mendekat dan akhirnya meledaklah spermaku di dalam memeknya. “Aduh mas e pinter banget main e, aku nganti lemes banget mas. Aku durung pernah ngrasake koyo ngene,” katanya.

Setelah beristirahat sejenak dia kuajak ke kamar mandi. Tapi dia rada enggan. Aku bilang, nggak enak, kalau tidur belepotan gitu. Di bawah pantatnya memang aku alasi handuk, agar maniku yang meleleh keluar dari memeknya tidak sampai mengotori sprei.

Dengan malas-malasan akhirnya dia menggelayut ditubuhku menuju kamar mandi. Setelah itu kami tertidur pulas. Kami terbangun sudah sekitar jam 11 siang. Perut rasanya keroncongan.

Setelah kami main satu ronde lagi, kami mandi dan berpakaian lengkap. Hari ini aku berencana mengantar Mbak Surti ke Purworejo.

“Mas tau enggak, aku kan waktu di Terminal Tirtonadi kemarin, pura-pura saja nanya ke mas. Padahal aku naksir mas biar jadi pasanganku untuk ke Gunung Kemukus,” katanya sambil berbisik dalam perjalanan kami dengan kereta Pramex (Prambanan Expres). Dalam hatiku ternyata sama juga dengan aku, memilih-milih pasangan sebelum ke Kemukus.

Sesampainya di Purworejo aku langsung mencari hotel, dan malamnya janjian mau merasakan nasi gorengnya. Mbak Surti dibantu keponakannya membuka tenda Nasi Goreng. Aku mencicipi nasi goreng olahannya, juga mi rebus. Ternyata bumbunya terasa masih kurang mantap, malah terkesan terlalu banyak MSG. Kalau dia mempertahankan rasa nasi goreng seperti ini, biar berpuluh kali ke gunung Kemukus, nasi goreng dagangannya gak bisa tambah laku. Aku berjanji akan memberi resep bumbu nasi goreng yang lebih yahud. Dia kelihatan senang sekali. “ Lha mas e pinter masak toh,” tanyanya heran bercampur gembira. Kami janjian ketemu besok dengan dia menjemputku ke hotel dan mengajak ke rumahnya.

Keesokan harinya aku bersama Mbak Surti belanja ke pasar membeli bumbu yang kuperlukan seperti kecap asin, kecap inggris, ebi, kemiri dan bumbu kaldu sapi dan ayam serta trasi yang bagus. Semua belanjaannya kubayari. Dia kelihatan senang sekali.

Dari pasar kami langsung menuju rumahnya yang sederhana. Rumahnya kelihatan sepi kecuali keponakannya yang kemarin membantu berjualan. Semua anak-anaknya sedang bersekolah. Aku menunjukkan olahan bumbu nasi goreng berbagai versi, ada versi chinese food, ada versi nasi goreng jawa, sekaligus dengan isinya ada udang, ayam, hati ampela ayam dan baso. Dengan gaya koki profesional aku mendemontrasikan penggunaan bumbu dan memasak nasi gorengnya dengan berbagai versi. “Wah nasi goreng mas e enak tenan je,” katanya. Aku juga mengajari cara memasak mi goreng, mi rebus dengan bumbu yang sederhana tetapi terasa sedap. Aku minta dia mengikuti resepku untuk dijual di warungnya. Aku sekaligus mengajari pula cara membuat Kwetiau goreng ala Medan dan Kwetiau siram.

“Wah isine lengkap banget yo mas, iki di jual berapa mas. “ tanyanya.
Untuk pertama Nasi goreng lengkap dan Kwetiau gorengnya dijual dengan harga 10 ribu dulu, nanti kalau sudah banyak pelanggannya baru dinaikkan. Dengan harga 10 ribu sudah cukup bisa dapat untung kok. Dia sepakat mengikuti arahanku dan nanti malam menu baru ini akan di coba dijajakan. Itu saja tidak cukup aku membantu membuatkan menu dengan menyewa komputer di warnet lalu difoto copy dan tendanya diubah dengan tampilan print digital banner dengan disain yang lebih menarik. Malam itu pengujung warungnya lebih ramai dari biasanya, sampai mereka harus rela menunggu agak lama menunggu pesanannya. Menu baru yang kurancang itu lumayan berhasil malam itu. Aku terus menunggu di warung Mbak Surti, sampai dagangannya habis jam 12 malam. “Wah lumayan je mas duite akeh,” kata Mbak Surti.

Memang tampilan warung Mbak Surti agak mencolok dibandingkan warung-warung di dekatnya. Banner yang mencolok memikat orang untuk mampir. Apalagi menu yang ditawarkan belum ada saingan di kota itu. Mbak Surti sebenarnya punya sense yang bagus soal memasak, sehingga aku tidak perlu terlalu susah mengajari bumbu-bumbunya.

“Mbak kuncinya di telor, jangan dimasukkan diawal, tetapi dipertengahan kita menggoreng, biar tidak amis taburi merica. Dengan telor itu makannya jadi tidak terlalu berminyak, sehingga orang tidak cepet muak,” kataku memperingatkannya.
“Mbak ziarah ke gunung kemukus itu harus 7 kali lho dengan jeda setiap 35 hari dan harus dengan pasangan yang sama lho,” kataku menggoda.
“Wah 10 kali pun gak apa-apa asal sama mas e” katanya genit.

Sebulan kemudian dia mengabariku bahwa warung tendanya sekarang sudah memiliki 3 meja, dan rame terus. Padahal waktu itu cuma ada 1 meja. Dia sudah punya 2 asisten untuk masak dan 2 lagi untuk melayani.

Aku tidak tahu apakah Mbak Surti meyakini kemajuan dagangnya karena ziarah ke Kemukus, atau karena menu baru yang kuajarkan kepadanya. Hampir setiap bulan aku ke Solo dan kami ke Kemukus melaksanakan sex orgy di alam bebas. Setahun kemudian dia sudah makin berkembang dengan memperbesar tendanya menjadi 8 meja. Omzetnya sudah bisa mencapai 2 jutaan dan kalau malam minggu bulan muda bisa mencapai 5 jutaan.

Jika dulu aku yang membiayai hotel dan segala macamnya. Sekarang Mbak Surti mencegah aku membiayai itu, Dia semua yang membayarnya.
Aku menyukai mbak Surti karena memeknya uenak banget, sebaliknya dia menyukai ku karena jasa resepku dia bisa maju . Kabar terakhir dia sudah buka cabang di kota yang sama. Bravo Mbak.

TACIK MENGUNDANG,,,


Kejadian yang aku ceritakan ini merupakan kisah nyata yang aku alami beberapa bulan yang lalu tepatnya bulan Desember 2001. Aku sendiri seorang pria yang sudah beristri dan isteriku bekerja di salah satu kantor pemerintah di kotaku, serta sudah mempunyai dua anak berumur 10 tahun dan 7 tahun semuanya cewek.

Dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan memang dirasakan sangat memberatkan bagi kelompok masyarakat kelas menengah kebawah, begitu juga yang menimpa masyarakat di perumahan Mr tempat aku tinggal. Sehingga ibu-ibu rumah tangga harus pandai benar untuk mengelola/mengatur pembelanjaan uangnya agar bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya selama satu bulan. Salah satu bentuk efisiensi yang dilakukan isteriku yaitu yang biasanya setiap harinya memakai kompor elpiji, maka untuk lebih menghemat akhirnya membeli kompor dengan bahan bakar minyak tanah. Dan kompor minyak tanah itu merupakan temuan baru dari salah satu mahasiswa tehnik PTN di Surabaya yang sudah dipatenkan.
Pada suatu hari di bulan Desember, Distributor kompor yang aku ceritakan tadi mengirim salah satu karyawannya untuk mengantar barang yang aku pesan serta melakukan demo cara-cara pemasangan dan operasional kompor tersebut. Saat dilakukan demo, salah satu tetanggaku yang kebetulan kontrak rumah di depanku, janda berusia 45 tahun dengan dua anak yang satu sudah kuliah dan satunya masih SMA, ikut nimbrung untuk melihat demo kompor. Biasanya aku memanggil dia dengan sebutan Tacik, karena memang dia warga keturunan.
Acara demo-mendemo kompor selesai dan akhirnya Tacik ikut memesan satu kompor untuk keperluan rumah tangganya, kejadian demo kompor sudah satu minggu berlalu, hingga berlanjut dengan kisahku ini.
Pagi itu setelah mengantar isteriku kerja, aku tidak langsung berangkat kekantor, tetapi pulang dulu kerumah, karena ada kerjaan yang harus aku selesaikan di meja komputerku. Setelah pekerjaan selesai, aku duduk-duduk di teras minum kopi sambil menikmati sebatang rokok Gudang Garam Surya kesukaanku. Saat enak-enaknya aku menikmati sebatang rokok karena pekerjaan kantor udah beres, tiba-tiba dari depan rumahku terdengar teriakan Tacik.
“Om.. om Hr.. aku minta tolong bisa khan”?
“Minta tolong apa dulu, kalau dimintai tolong untuk sarapan pagi sih aku mau-mau aja” Jawabku dengan sedikit becanda.
“Ini lho Om, kompor yang aku beli kemarin nyalanya koq agak merah, nggak seperti punya isteri Om Hr..”
“Ohh.. gitu, mungkin sumbunya terlalu panjang waktu memasangnya, coba tak lihatnya dulu” kataku sambil beranjak kerumahnya.
Sampai di rumah Tacik aku langsung dipersilahkan ke dapur untuk mencoba cek nyala kompor dan memang benar nyalanya agak kemerah-merahan.
“Om aku minta tolong dong, dibetulin kompornya mau khan..?”, teriaknya agak manja sambil mengucek-ucek cucian bajunya.
“Beres, asal dikasih imbalan yang enak-enak..”, godaku, sambil mulai membongkar kompor.
“Achh.. Om Hr ini bisa aja, yang enak-enak itu maksudnya apa sih Om..?” tanyanya kayak orang bloon.
“Yeach.. semua aja yang special dan kita anggap enak” jawabku sambil membuang putung rokok ke bak sampah dapur.
Sambil mulai bongkar-bongkar kompor, aku sempat melirik Tacik yang lagi cuci pakaian, “Busyet.. Ckk.. ck.. ckk!” rutukku dalam hati.
Aku merasa seperti terbangun dari mimpi buruk, ternyata sedari tadi tanpa kusadari, Tacik cuma memakai pakaian tidur warna putih yang sangat tipis sekali dan bagian atas cuma memakai tali kecil yang tersampir dipundak, sehingga Bh dan Cd yang dipakainya kelihatan jelas bentuk maupun warnanya.
Saat aku meliriknya, Tacik lagi berdiri agak nungging membelakangiku untuk membilas cucian bajunya, sehingga pantatnya yang gempal bulat, berisi daging padat dan kenyal itu kelihatan menggoda untuk dibelai dan disentuh..
Apalagi Cd warna merah jambu yang dipakainya kelihatan tercetak jelas di bongkahan pantat gempalnya dan serasi benar dengan warna putih mulus kulitnya, dan berdirinya agak ngangkang lagi.., pahanya terlihat tegar, kokoh dan bulat berisi bagai bulir padi raksasa.. Entah disegaja atau tidak, yang jelas pantatnya sesekali digoyang kekanan dan kekiri seiring tangannya yang sedang membilas pakaian yang dicucinya.
Dan sambil melakukan aktivitasnya, sesekali juga Tacik bertanya, “Om Hr.. hari ini koq kelihatan fress benar apa semalam mendapat pelayanan yang sangat istimewa dari isteri.. he.. he.. he.., keramas lagi.. hi.. hi.. hi..” kata Tacik sambil ketawa cekikikan.
“Cerita donk.., biar aku juga ikut tahu, biar nggak hanya menduga-duga saja..” timpalnya lagi sambil menoleh dan mengedipkan sebelah matanya, kayak Jaja Miharja dalam Kuis Dangdut di TPI.
“Ah Tacik koq mau tahu aja, kalau aku ceritain, nanti Tacik jadi grenk terus gimana.. hayoo.. apa nggak malah berabe, coba dipikir.. heh.. he.. he..” jawabku setengah menggoda sambil memancing reaksinya.
Dan ternyata, rasa ingin tahunya semakin menjadi-jadi, terbukti dia menghentikan aktivitasnya dan sambil memercikkan air dari kesepuluh jarinya berkata “Sesekali boleh khan, tahu rahasia tetangga kita.. heh.. he.. he..” katanya sambil menoleh kearahku sehingga buah dadanya yang ranum dan berukuran 39 c itu kelihatan menggelantung berat seakan-akan melambai untuk minta dibelai dan dihisap habis puting-putingnya.
“Boleh-boleh aja asal kalau nanti agak berbau porno.. nggak nyalahin kita, apalagi menuntut kenapa semalam koq nggak diajak ikut nimbrung.. heh.. he.. he..” kataku mulai berani terang-terangan sambil melempar batang korek ke arah dadanya, dan tepat mengenai tengah belahan buah dadanya.
“Edian tenan.. Om.. tembakan korekmu tepat sasaran, pas di tengah-tengah susuku yang montok, aku jadi geli.. hi.. hi.. hi..” Katanya sambil merogoh batang korek yang masuk kebelahan buah dadanya, sehingga saat merogoh batang korek tersebullah buah dadanya yang putih mulus, mengkal dan ranum itu di hadapanku.
Walau omong-omong kami sudah mulai mengarah hal-hal yang bersifat rangsangan birahi, namun aku belum berani memulai tindakan fisik, karena aku kuatir kalau semua yang dilakukan Tacik hanya upaya untuk memancing dan atau untuk mengetahui kecerobohan diriku, mengingat Tacik amat dekat sekali dengan isteriku. Bahkan aku berpikir ” Jangan-jangan ulah Tacik memancing-mancing reaksi birahiku itu, semua dilakukan atas suruhan atau permintaan isteriku “. Kataku dalam hati.
Sambil memasang sumbu-sumbu kompor yang sudah dapat separo, aku terus ngomong-ngomong hal-hal yang agak lebih hot lagi, dan kelihatan Tacik sudah mulai terpengaruh atas semua obrolan birahi, terbukti sesekali dia sering membetulkan letak BH yang membungkus buah dadanya yang super besar itu.
Saat aku pandang, ternyata kerjaan cuciannya sudah selesai, sambil menyambar handuk putihnya dia berucap “Om.. aku mandi dulu ya, awas jangan ngintip lho..?” ujarnya sambil melenggak-lenggokkan patatnya yang besar dan gempal itu sebelum masuk kekamar mandi.
Saat masuk kamar mandi, ternyata pintunya tidak dikunci, namun aku tidak ambil pusing walau pintu kamar mandinya tidak dikunci. Karena aku masih beranggapan kalau tindakan yang dilakukan Tacik dalam percakapan yang sudah mengarah hal-hal bersifat birahi tadi merupakan usaha Tacik untuk mencoba ngetest atas kesetiaanku terhadap isteri.
Oleh karena itu, meskipun penisku terasa besar membengkak dan panas berdenyut-denyut, karena terpengaruh atas percakapanku dengan Tacik yang sangat membangkitkan birahiku, aku tetap mencoba untuk mengalihkan pikiran tersebut dengan menyelesaikan pembenahan sumbu-sumbu kompor yang diminta Tacik barusan.
Namun saat aku mulai bisa mengusir pikiran jorokku untuk bisa membelai, mengelus dan meraba inci demi inci atas tubuh putih mulus Tacik yang sedang mandi tersebut, tiba-tiba dari kamar mandi terdengar panggilan agak halus dari Tacik, “Om.. sorry ya, tadi aku lupa kalau sabun mandiku udah habis, tolong ambilkan sabun mandi dibungkusan belanjaan yang aku taruh diatas meja barusan ya..”? Pintanya dengan suara yang agak manja.
“Diambil sendiri chan bisa sih Cik, tanganku belepotan minyak tanah nich..” Jawabku sambil melihat kearah meja yang dimaksud dan memang benar diatas meja dapur terdapat bungkusan belanjaan yang terbungkus tas kresek hitam.
“Tolong dong Om.. aku udah telanjur telanjang bulat nich.. malu khan kalau keluar dalam keadaan bugil..”? Pintanya lagi dengan suara yang lebih manja.
Sesaat, mendengar suaranya yang manja itu, aku jadi lupa atas anggapanku kalau Tacik lagi melaksanakan tugas reserse dari isteriku.
Maka seketika, pikiran jorokku terhadap Tacik menjadi bangkit dan menggelora bagai air bah yang datang dengan tiba-tiba. Kemudian aku bangkit berdiri untuk cuci tangan, dan melangkah kemeja dapur untuk mengambil bungkusan belanja yang berisi sabun mandi tersebut.
” Oke.. oke.. tak ambilin dech..”, Kataku agak parau, membayangkan ketelanjangan Tacik yang punya body aduhai dan semlohai itu.
Setelah kudapat sabun mandi yang diminta, aku langsung menuju kamar mandi, dan ternyata benar pintunya tidak dikunci, sedikit terbuka, dan dari dalam kamar mandi terdengar teriakan kecil Tacik “Cepat dikit donk Om.., kelamaan telanjang bisa-bisa masuk angin nich..”. katanya sangat manja dan begitu menggoda nafsu birahiku
Begitu sampai di pintu kamar mandi, aku kuakkan sedikit pintunya dan memang benar apa yang dikatakan bahwa Tacik bener-bener dalam keadaan telanjang bulat berdiri agak mengangkang, sehingga dari celah belahan bongkahan pantatnya yang gempal kelihatan memeknya yang merah tebal berbulu menyembul agak malu-malu dalam posisi membelakangiku sedang tangannya dijulurkan untuk menerima uluran tanganku yang mau memberikan sabun mandi yang diminta.
Sesaat melihat tubuh telanjang Tacik pikiranku sebagai seorang laki-laki jadi bergemuruh, meledak-ledak dan nafsu birahiku bangkit begitu menggelora dan penisku semakin terasa panas, meronta-ronta dan denyutannya semakin terasa mendetak-detak kayak detak jarum jam layaknya, saking tidak kuatnya menahan gelora nafsu birahiku, rasanya aku seakan ingin langsung menerkam dan menelan bulat-bulat tubuh telanjang yang ada dihadapanku itu.
Namun sebagai seorang intelek, aku langsung berpikir, bahwa apa yang dilakukan Tacik dengan telanjang membelakangiku berarti bukan merupakan perasaan malu yang dia tunjukkan karena berhadapan denganku, karena apabila dia malu karena terlihat telanjang olehku, tentunya pintu tetap ditutup atau dibuka sedikit dan tanganya bisa dijulurkan keluar untuk menerima sabun, akan tetapi dengan tindakan yang dia lakukan aku mengira bahwa yang diperbuat Tacik merupakan faktor kesengajaan yang memang ingin menggugah kelelakianku agar aku terangsang hebat dan bergairah sehingga aku tidak tahan untuk bertindak brutal menyetubuhinya.
Berdasarkan pemikiran itu, maka secepat kilat celana pendek yang aku kenakan aku buka, maka tersembullah penisku yang sudah membengkak besar dan berdenyut-denyut, lalu aku sorongkan penisku kejuluran tangan Tacik, sambil berkata “Cik sabunnya nich..”. Dan juluran tangan Tacik menggapai-nggapai untuk meraih sabun yang dimaksud, karena jorongan penisku lebih rendah maka tangan dan jemari Tacik aku bimbing untuk memegangnya.
Dan Tacik kelihatan agak terperanjat malu karena sabun yang seharusnya digenggamnya dingin tetapi terasa panas berdenyut-denyut, sesaat dia menoleh untuk melihat benda yang dipegangnya, respon yang ditunjukkan demi melihat penisku sudah ada dalam genggamannya seakan-akan terkejut “Ahh, Om nakal banget sih dan punyamu bener-bener luar biasa, besar, keras dan kokoh sekali..” katanya sambil tersenyum melihat keberhasilan upayanya untuk memancing birahiku.
Kemudian tanpa perasaan sungkan dan malu-malu lagi maka kurengkuh dan kubalikkan tubuh telanjang Tacik untuk saling berhadapan dan aku dekap erat-erat sambil tidak lupa aku lumat bibirnya yang sensual, dan dengan rakus sekali Tacik membalas lumatan bibirku, “Ahh.. sshh.. eehhmm.. omm.. oohh..”.
Bibirnya yang merah dan panas terus melumat ganas sambil tak lupa lidahnya dia julurkan masuk kemulutku.. saling menghisap dan memainkan lidah kami masing-masing.. sshh.. mmckk.. sshh mmcckk.., tangan Tacik yang satu menggenggam erat penisku yang semakin keras denyutannya sedang yang lain membelai-belai punggungku.
Badanku rasanya seperti dialiri listrik yang bertegangan tinggi ketika lidahku dia hisap kayak ular sedang melahap mangsanya dan pelukan tangannya semakin erat saja rasanya seakan kuatir aku terlepas, sehingga buah dadanya yang besar padat itu terasa mengganjal empuk didadaku menambah kenikmatan adegan peluk cium dan hisap menghisap lidah yang sedang berlangsung seru.
Sesaat setelah adegan melumat dan menghisap lidah bersangsung aku perhatikan ada perubahan dalam tubuh Tacik, mukanya kelihatan lebih memerah dan matanya sayu sekali, dia kelihatan pasrah dan gejolak birahinya seperti sudah tidak tertahankan untuk diperlakukan lebih lanjut.
“Omm.. berbuatlah sesuka hatimu.. aku pasrah.. puaskan aku.. ahh.. sshh.. desahnya sambil menengadahkan mukanya agak keatas” Lalu tanpa disuruh lagi aku jilati lehernya yang jenjang itu dengan pelan dan penuh kemesraan, ” Ahh..sshh aahh .. sshh.. erangnya sambil sedikit menggeliat, dan aku teruskan jilatan-jilatan leher itu ke bagian bawah, pada saat jilatan mengenai puting buah dadanya yang besar dan kenyal, Tacik tersentak bagai tersengat listrik.. ahh.. ooh.. Omm.. terus.. om.. hisap terus Om.. dan putingnya aku permainkan dengan lidahku, bergantian antara aku jilat dan hisap, kadang aku gigit kecil dan akibatnya Tacik menjadi samkin liar antara menggeliat, mendongak dan mengerang..eehhmm.. sshh.. aayyoo.. Omm.. lakukan semaumu.. hhmm.. uueennaak Omm.., erangnya sambil membelai-belai kepalaku disertai remasan tanganya yang agak liar.
Setelah puas dengan isapan dan gigitan pada puting buah dadanya, lalu aku telusuri bagian tubuhnya inci demi inci kebagian bawah, dan aku berhenti saat jilatan lidahku sampai pada tali pusarnya yang agak berlobang kedalam, dan lidahku aku julurkan untuk mengorek-orek lubang tali pusarnya, akibatnya gerakan menggeliat dan meliuk tubuh Tacik semakin menjadi-jadi. Mungkin ini juga merupakan daerah sensitive Tacik, terbukti dia menikmati sambil merem melek matanya, dan akhirnya kakinya sedikit demi sedikit mulai mengangkang akibat kegelian dan rangsangan yang dia rasakan atas jilatan-jilatanku.
“Ayo Om.. lebih kebawah lagi.. sshh.. hhmm..” erangnya seperti habis makan sambal yang terlalu pedas rasanya. Aku sengaja tidak menuruti permintaannya, dan aku ingin tahu sejauh mana pertahanan Tacik dalam mengendalikan emosi birahinya, malahan aku kembali berdiri dan mulai menghisap lagi puting buah dadanya. Dan dia mendesah-desah.
“Ahh.. Omm.. aku tak tahan lagi.. setubuhi aku sepuasmu.. oohh.. sshh.. ahh” erangnya sambil mendesis-desis seperti ular yang sedang mengincar mangsanya.
Mendengar erangan dan desisannya aku akhirnya juga jadi tidak tahan lagi, pelan-pelan pahanya yang putih mulus itu aku renggangkan dengan sebelah kakiku, pahaku aku gesek-gesekkan kememeknya yang tebal empuk dan berbulu lebat, dan ternyata didaerah memek nya sudah terasa licin berlendir, mungkin akibat rangsangan yang aku lakukan membuatnya hampir bobol pertahanannya.
Saat pahaku aku gesek-gesek dimemeknya yang udah basah berlendir itu, reflek yang dia tunjukkan merem melek keenakan, “Ohh.. sshh.. uuenak sekali Om..” Erangnya sambil kemudian mendekapku erat-erat dan buah dadanya yang besar, padat dan kenyal itu semakin terasa mengganjal empuk didadaku, seakan ingin menambah dan mengobarkan gemuruh birahiku, dan rasanya tubuh kami seakan menyatu yang tak mungkin terpisahkan lagi.
Penisku sendiri rasanya sudah nggak tahan untuk segera bersarang kememeknya yang sudah licin berlendir itu, tetapi saat ini yang ada dalam pikiranku bagaimana caranya untuk bisa membuat Tacik begitu terkesan untuk menikmati kejadian ini, toh cepat atau lambat tubuh telanjang yang ada didekapanku telah pasrah untuk disetubuhi dengan sepuas-puasnya.
Maka untuk melaksanakan pemikiranku itu, aku dengan sedikit kesabaranku berusaha untuk membuat Tacik begitu terkesan, dan akhirnya tubuh telanjang Tacik aku angkat keatas bak mandi, dan kelihatannya Tacik udah bener-bener pasrah atau mungkin sudah tidak kuasa lagi membendung gejolak birahinya saat kedua kakinya aku buka lebar-lebar, sehingga kelihatan mengangkang, dan pada belahan pahanya terpampang memeknya yang menggunduk dan kelihatan merekah seperti bunga matahari yang lagi mekar-mekarnya, sedang disekeliling memek ditumbuhi bulu-bulu rambut yang begitu lebatnya, belahan memeknya telah basah, licin berlendir dan diantara belahan memek terlihat daging sebesar biji kacang berwarna merah mencuat dengan lancipnya, seakan menantangku untuk bertarung mengadu keperkasaan.
Dan aku mulai membelai pahanya dengan halus dan perlahan mendekati seputar memeknya, dan tubuh Tacik mulai menggeliat-geliat merasakan sentuhan tanganku, setelah aku puas memainkan tanganku disekitar memek, lalu aku mulai menjilati bibir memeknya dengan bibir dan lidahku, akibatnya Tubuh telanjang Tacik tersentak tatkala jilatan lidahku menyentuh klitorisnya.
“sshh.. sshh Om.. sshh uueenak.. sshh .. teruss Oomm.. sshh.. uuhh..” erangnya dengan mata yang membeliak penuh kenikmatan.
“Tenang Cik.. nikmati aja..”jawabku sekenanya.
“Sshh.. ayoo.. Oomm.. masukkan kontolmu Omm.. aku udah nggak tahann..” Pintanya sambil mencengkeram kran bak mandi.
“Ssshh.. eehh.. sshh.. oouuhh..” erangnya lagi sambil mengangkangkan kedua pahanya lebar-lebar.
“Aaauuhh..”
“Ssrrtt.. ssrruup.. srrup..” jilatan lidahku makin dalam menjelajahi dan mengorek-ngorek rongga-rongga memeknya yang membusung tebal penuh bulu-bulu yang lebat.
“Aauuhh.. aahh..”
Lendir-lendir yang keluar dari rongga memeknya semakin banyak mengalir dan terasa asin sekali, apalagi bercampur dengan air ludahku, sehingga seperti busa sabun layaknya.
Begitu erangan, lenguhan dan gerakan tubuh bugil Tacik semakin liar tak terkendali, maka ritme jilatanku semakin kupercepat dan aku selingi dengan hisapan pada bagian klitorisnya.
Akibatnya, “Aaauuhh.. aauuhh.. oouuhh.. Omm.. sshh.. eehh.. hheekk.. ss.. aahh.. hh” sambil mengerang dan melenguh histeris tubuh telanjang Tacik mengejang dan keduanya pahanya menjepit kepalaku dengan keras sedang tangannya mencengkeram dan membenamkan kepalaku dalam-dalam kepermukaan memeknya yang sudah bersimbah lendir. Sesaat setelah tubuh telanjangnya tersentak kejang, akhirnya terkulai lemas.
Sambil turun dari bak mandi Tacik merangkul dan menciumku dengan mesra sambil berkata “Omm.. makasih ya, aku udah lama nggak melakukan sex, aku rasanya udah bener-bener nggak tahan sejak lihat batang penis Om menyembul tadi, sekarang giliranku untuk memuaskan Om..” pintanya sambil tangannya yang lembut menggenggam batang penisku yang sudah berdenyut-denyut seakan mau meledak rasanya.
Kemudian tubuh telanjang Tacik jongkok, sambil lidahnya dijulurkan untuk membelai dan menjilati kepala penisku.
“Aauuhh.. Ciikk..”?
“Mmck.. ffcckk.. ffcckk..”ritme jilatan Tacik semakin dipercepat.
“Ssshh.. oouuhh.. Cikk.., uueenakk..”
Kemudian Tacik dengan lahapnya mengocok-kocok batang penisku kedalam mulutnya, dijilat, dihisap dan saat batang penisku dalam rongga mulutnya, lidahnya dengan lincah membelai-belai kepala penisku.
“Ooouuhh.. sshh.. oouuhh..”, badanku rasanya ringan melayang dan disetiap jengkal tubuhku seakan ikut merasakan kenikmatan yang aku alami saat ini.
Dan dalam sekejap, dari dalam tubuhku seakan ada aliran kenikmatan yang mendesak-desak untuk keluar melalui batang penisku, walaupun kucoba untuk menahannya, ternyata aliran kenikmatan yang terpusat melalui batang penisku tak kuasa aku tahan, akhirnya, “Aaauuhh.. crreett.. ccrreett.. ccrrtt..”, keluarlah cairan putih kental dari batang penisku.
“Hhmm.. mmck.. mmck.. mmcckk.. sshh .”
Cairan sperma yang keluar dari batang penisku ditelan dengan lahapnya oleh Tacik, seakan cairan putih kental itu merupakan sumber air kehidupan baginya, setelah puas menelan cairan kental tadi, bahkan mulut Tacik masih sempat menghisap-hisap kepala penisku seakan-akan tidak ingin ada yang tersisa, dan sebagian yang tercecer dibatang penisku dijilatinya sampai bersih.
“Uenak Om.. mmck.. mmck .. spermamu rasanya gurih sekali..” katanya sambil berdiri dan memelukku serta menciumku dengan mesra sekali, sedang tangan kanannya masih memegang erat batang penisku yang masih kokoh berdiri walau sudah mengeluarkan sperma.
Kuakui dalam hal sex, aku memang sangat tangguh, biasanya kalau berhubungan badan dengan isteriku, aku bisa bertahan lama walau isteriku sudah dua kali, bahkan tiga kali mencapai kepuasan. Sedang dalam pandangan Tacik mungkin hal ini dianggap luar biasa, melihat keperkasaan dan kejantananku dalam melayani nafsunya. Selanjutnya dari adegan peluk cium dan jilatan-jilatan lidahnya, birahiku yang nyaris mau surut menjadi berkobar lagi, bahkan lebih menggelora.
Tubuh telanjang Tacik yang memeknya sudah basah berlendir itu, aku bimbing pelan-pelan untuk bersandar kedinding kamar mandi, dan kakinya yang sebelah aku angkat sedikit numpang clocet, sambil tetap berciuman batang penis yang masih dalam genggamannya aku sorongkan mendekati gundukan tebal memeknya yang berbulu hitam lebat, lalu kepala penisku aku susupkan kebelahan memeknya, “Slleep.. oouuhh.. sstt ..”
Batang penisku akhirnya dengan mudah amblas melesak kebelahan memeknya, karena cairan lendir dalam memeknya begitu banyaknya setelah mencapai klimaknya tadi.
“Aauuhh.. sstt..” teriaknya lagi sambil kedua tangannya menarik pantatku, sehingga batang penisku menjadi melesak semakin dalam memasuki lubang memeknya yang empuk dan berbulu lebat itu.
Pelan-pelan batang penisku mulai memompa keluar masuk memeknya dengan ritme yang slow, sedang tangan Tacik tetap berusaha membantu memegangi pantatku seolah-olah takut aktivitas pompa memompa memeknya yang licin basah berlendir itu terhenti.
Saat aktivitas pompa memompa memek berlangsung, tubuh telanjang tacik mulai menggeliat kekanan dan kekiri merasakan kenikmatan yang sedang dialaminya. Buah dadanya yang besar kenyal, menggelantung dan menempel empuk didadaku saat aku merapatkan dadaku ketubuhnya.
“Aauuhh.. sstt.. oouuhh..” erangnya sambil mencengkeram erat pantatku.
“Ssstt.. oouuhh.. sstt.. oouuhh” desisku merasakan kenikmatan.
“Terus Omm.. yeeaahh.. sstt.. oouuhh.. cepat dikit Omm..”, pintanya sambil makin erat menarik-narik pantatku.
“Ouuhh.. oouuhh.. sstt..” erangku lagi dan denyutan batang penisku makin meledak-ledak.
“sstt.. eehhmm.. sstt.. eehmm.. Omm, aku mau keluar..” desisnya sambil menggeliat liar dan tanganya mulai terlepas dari pantatku lalu mencengkeram pundakku.
“Cikk.. kita keluarkan bareng ya.. sstt.. Ooouuhh.. sstt..” kataku sambil mempercepat gerakanku.
Dan desakan yang mau keluar dari batang penisku mulai tidak kuasa lagi aku tahan, akhirnya sambil memacu gerakan memompa memeknya lebih cepat “Aaauuhh..”, menyemburlah cairan hangatku menyemprot lubang memek Tacik yang berdenyut-denyut itu.
“Ahh.. oomm..” teriaknya sambil mencengkeran dan memelukku erat-erat, dari lubang memek Tacik yang juga terasa keluar cairan hangat sehingga batang penisku terasa dipilin dan dikenyot-kenyot dari dalam gundukan memeknya yang basah, hangat dan berdenyut-denyut keras
“Makasih Omm.. aku bener-bener merasa puas dan tubuhku walaupun lelah tetapi hati dan pikiranku menjadi segar kembali” katanya sambil tetap memelukku mesra sekali setelah dua kali mengalami puncak kepuasan.
“Omm..kalau nanti aku kepingin melakukan lagi, maukah kamu memberikan kontolmu yang gede ini untukku..”? tanyanya lagi sambil mengenggam mesra batang penisku.
“Okelah bisa diatur.. yang penting kita harus tetap menjaga kerahasiaan hubungan kita ini.. Ok!?!” jawabku sambil melumat bibirnya yang kenyal.
“Well, kalau gitu kita mandi bareng yookk.., aku juga segera berangkat kekantor, nanti kalau ada kesempatan lagi bolehlah kita ulang lagi, Ok..?” kataku sambil menyiram air kearah tubuh telanjangnya yang mulus.
Akhirnya kami berdua mandi bersama sambil bersenda gurau, sambil saling menggosok dan menyabuni tubuh kamu bergantian, setelah selesai mandi aku dibuatkan segelas air susu dan sehabis meminumnya kemudian aku pamit pulang, tak lupa Tacik memberikan ciuman panjang dan hisapan lembut dibibirku.
TAMAT